Menunggu menurut orang sangat membosankan. Menunggu hanya terdiam menanti suatu kepastian. Terlalu sering aku menunggu. Dan sudah lama aku terbiasa untuk menunggu.
Terlalu malas untuk memaksa. Tidak berani mengungkapkan kejenuhan. Hingga suatu saat sesuatu dan seseorang menyadarkan ku. Ada hal yang lebih baik selain bersabar dalam kejenuhan menunggu.
Suatu cerita di hari Minggu. Seperti biasa aku menyabarkan diri untuk menunggu. Di saat itu aku dengan beberapa kawan memesan
takoyaki di suatu festival budaya. Ramai sekali orang yang mengantre. Berdiri di depan penggorengan dengan seorang kawan. Panasnya penggorengan dan lelahnya kakinya berdiri mungkin tak membuatnya nyaman, hingga dia pun menegur si penjual agar segera menyelesaikan pesanan untuknya.
Dia juga bertanya padaku sudahkah aku mengingatkan si penjual untuk menyelesaikan pesananku. Sampai akhirnya semua kawanku yang memesan sudah mendapatkan milik mereka, aku tetap setia menanti si penjual menyelesaikan pesananku. Mereka berkali-kali memperingatkan ku untuk lebih cepat. Tapi aku tetap saja menjawab "Sebentar masih antre" atau "Sebentar masih dibungkus." Hingga aku melewatkan acara
foto-foto karena aku yang tak berhenti menunggu. Tapi selesailah penantian ku terhadap lima buah
takoyaki isi
crabstick itu.
Tapi cerita klimaksnya bukan itu. Cerita yang benar-benar membuatku sadar adalah saat aku mendapatkan permintaan dari seorang kawanku. Dia meminta ku untuk mencetakkan sertifikat di suatu percetakan. Seperti biasa aku tidak bisa menolak, karena itu juga tugasku sebagai anggotanya.
Ceritaku menunggu dimulai. Setelah menyerahkan data sertifikat lomba dari kawanku ke salah satu karyawan percetakan. Aku menunggu di sebelah karyawan tadi. Berdiri sambil memperhatikan sekitar. Karyawan tadi membuka
manga online dan karyawan lain melihat
music video sebuah lagu. Lama. Satu jam aku menunggu untuk empat lembar sertifikat ukuran A5. Aku pikir itu karena antre.
Dan akhirnya aku bertanya ke karyawan itu. Tapi dia ternyata juga tidak tahu dari tadi aku menunggu lama. Dan setelah diperiksa, ada masalah dalam pengiriman data ke komputer pencetak. Dia mencoba lagi mengirim tetapi tidak ada hasil. Sampai akhirnya pintu percetakan hampir tertutup dan seorang karyawan lain mengabarkan kepada seluruh penunggu yang ada bahwa alat pengirim ke komputer pencetak rusak dan tidak dapat melayani hari itu juga.
Jadi dari tadi aku hanya menunggu sesuatu yang tidak ada hasil sama sekali. Aku pulang tidak membawa apa-apa. Satu jam lebih menunggu dan tidak mendapatkan apa-apa.